Perjalanan Seni Lukis Indonesia, Kini dan Masa depan
OLEH Aendra MEDITA MMG
MELIHAT seni lukis Indonesia dalam perjalanannya sangat panjang. Setiap periode catatan seni lukis di Indonesia ini memiliki kisah masing-masing. Kehidupan saat ini merupakan kekuatan yang luar biasa, aliran klasik, modern sampai kontemporer mengambarkan perjalanannya karya seni lukis. Segala aspek warna atau apapun gayanya yang dihasilkan dari teknik tanpa dipengaruhi apapun adalah yang bukan sekadar nilai estetika biasa.
Kita tak usah lagi menyepelekan nilai estetik dan inilah yang telah banyak menorehkan sejarah bahwa perjalanan seni lukis Indonesia telah banyak sosok lahir dalam dunia lukis Indonesia yang mendunia. Sekadar menyebut nama seperti Raden Saleh, S.Sudjojono, Hendra Gunawan, Affandi, Ahmad Sadali, Basuki Abdullah, Barli Sasmitawinata, Sri Hadi, Jeihan, Moctar Apin, Roediyat dan masih banyak lagi maestro ternama.
Karya para perupa yang telah mendunia itu telah banyak representasi Indonesia di dunia. Perjalanan jam terbang mereka menajdi tolok ukur baik dari cara pandang konsep dan nilai estetik yang tertanam dalam pencatatan utama seni lukis Indonesia dan dunia.
Dalam konteks itu ada sebanyak 60 karya yang di pamerankan yang menjadi ekspresi kekaryaan dan tergabung dalam yang di kemas oleh Komunitas Lingkaran bertajuk pameran “UNITY” dengan mengacu pola pemikiran waktu bahwa UNITY yang digagas untuk menjadi dasar dalam mengembangkan seni rupa sesuai dengan konteks zaman yang juga menampilkan para pelukis antara lain karya maestro: Affandi, Ahmad Sadali, Amrus Natalsya, Arie Smit, Barli Sasmitawinata, Hendra Gunawan, Jeihan, Kartika Affandi, Muhtar Apin, Nana Bana, Popo Iskandar, R. Tohny Joesoef, Rudiat, Wahdi Sumanta ada juga karya pelukis : Ahmad Dahlan, Diyanto, Dj. Rachmansyah, Supriatna, John Martono, Taat Joeda juga hadir karya pelukis Anggota Komunitas Linhgkaran: Andi Sopiandi, Asgun (Asep Gunawan), Bambang Harsito, Choiri, Enceng Bosas, Hamdani, Harry Darwin, Heriana, Mohammad Sobirin, Moya K. Kamaruddin, Muhamad Nur, Tedy Osman
Selain itu ada pelukis Undangan Khusus dari berbagai kota: Ambarsari Sulistyawati, AR Tanjung (Depok), Budhiantini Bagyo (Tini Bagyo, Carsila (Bekasi), Dipo Andi (Yogyakarta), Eddy Hermanto (Bandung), Ghulam Gurat Sopiandi, Iwan Kuswanna (Tasikmalaya), Lilik Subekti (Tangerang), Liza Arne, Nanda Buana, RK Santang (Bandung), Saepul Bahri (Jakarta), Sigit Wicaksono (Bogor), Toni Fatoni (Jakarta),
Karya, pelukis maestro tak bisa disangsikan dan sudah jadi catatan tersendiri pada karya karya mereka jelas nilai yang diangkat kuat secara estetis yang sublimasi. Terlihat jika kita tafsir lagi bahwa dalam deskripsi karya-karyanya mereka bukan sebagai “mimpi” untuk sebuah karya lukis yang kuat dan eksplisit penuh karya yang penuh makna.
Yang dipamerkan merupakan yang nilai sejarah dari kolektor yang dengan kepedulianya agar menjadi apresiasi luas memiliki potensi ruang secara edukasi lewat pameran ini. karya yang lain adalah dari seniman ditampilkan yang terdiri dari karya seni lukis saat ini dan masa datang.
Sebuah upaya merekam ulang proses pameran ini menajdi keterbukaan dalam menerima ruang kritik. Memang terkadang untuk berserah diri secara tidak langsung melapas dan menutup mata diri saat karya diekspresikan ada di dalam ruang kemungkinan yang luas.
Pameran jalan baru yang mengandung sudut pandang di mana ruang baru tidak selalu menjadi alternatif namun jadi satu arah menuju perjalanan cakrawala seni masa depan.
Seni lukis saat ini memang mengalami masa yang luar biasa dan jadi titik terang. Ada juga yang tetap memilih jalan sendiri itu untuk menjadi langkahnya ada juga yang menuangkan ruang ekspresi penuh arah terang dan masuk suatu hal penuk relativitas kesinambungan yang penuh memiliki arti meski berbeda bagi tiap individu.
Setiap ‘jalan baru’ yang dilalui para pelukis adalah bagian dari perjalanan dan proses pembentukan jati diri pelukiasnya.
Pameran UNITY merupakan sebuah langkah yang langka, selain untuk mengenang sejumlah maetro yang ditampilkan karyanya, kita juga akan melihat lebih dalam adanya para gerenasi baru ini untuk masa depan.
Segala harapan aktivitas pelukis memang berharap tujuannya mendunia. Dan sangat jelas melalui pameran ini, diharapkan bisa menjadi satu titik terang bagi siapapun punya tujuan adanya pameran satu langkah menuju dan berharap mendapatkan semangat untuk menumbuhkan rasa semangat dalam langkah awal yang jadi tujuan untuk berkarya.
Sajian mengelola pameran ini menarik dan konsep persatuan mempunyai pandangan sendiri daripada prinsip pameran konvensional biasa tapi ada semacam kolaoborasi karya maestro dengan pelukis kini dan masa depan.
Pameran ini ini memiliki kekuatan cara pandang dalam melihat karya lukis yang tidak hanya yang menampilkan karya pelukis maestro tanah air –tapi pelukis menampilkan karya tebaik yang hadir bukan sekadarnya.
Karya lukis di balik semua itu kita melihat banyak presfektif yang punya pisau bedah cara pandang tentang Unity. Dengan berbagai macam objek dan gaya seninya masing-masing, membahas topik yang relevan dengan tema besar lahir dari rasa pribadi dan ekspresi estetika yang kuat.
Dalam pameran ini karya-karyan menjadi bukti yang memberi partisipasi penting dalam perjalanan seni lukis di tanah air. Lukisan-lukisan dari yang di pamerkan dengan kemampuannya menampilkan sisi dan kehidupan yang beragam dari para pelukis bukan sekadar hanya menampilkan ekspresi keindahan kehidupan semata, etetiak estetika di visualkan secara karya yang menunjukkan gagasan sipelukisnya dan punya nilai persatuan hal yang ada dalam kemasan tema besar terlihat di karya mereka.
Para pelukis yang mengungkapkan kekuatan karya terhadap pola pikir paling kuat ekspresinya. Menyampaikan tentang pentingnya Unity direspon secara baik dan sekaligus merupakan membaca momentum bahwa makna “Unity” spirit nilai agung yang sublim.